Peneliti NUS Ciptakan Kain dengan Layar Sentuh yang Fleksibel dan Bisa Dicuci

Peneliti National University of Singapore (NUS) berhasil mengembangkan kain pintar yang dapat berfungsi sebagai layar sentuh tanpa menggunakan panel kaku seperti pada smartphone. Inovasi TEKNOLOGI ini memanfaatkan serat elektronik khusus yang mampu menampilkan gambar, memutar video, mendeteksi sentuhan, dan terhubung secara nirkabel dengan perangkat digital. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature pada 21 Oktober 2026 tersebut menunjukkan bahwa pakaian dapat memiliki antarmuka digital sekaligus mempertahankan karakteristik kain yang fleksibel dan mudah bernapas. Menariknya, prototipe yang dikembangkan tetap mempertahankan fungsi layar setelah menjalani pengujian pencucian berulang, membuka peluang baru bagi perkembangan pakaian pintar.
National University of Singapore Menghadirkan Teknologi Tekstil Interaktif
Para peneliti dari Universitas Nasional Singapura berhasil menghadirkan inovasi menarik dalam bidang tekstil elektronik melalui pengembangan antarmuka digital berbasis serat. Proyek pengembangan ini dipimpin oleh Assistant Professor Tural Khudiyev dari College of Design and Engineering. Dibandingkan sistem yang menggunakan modul elektronik terpisah, teknologi ini menempatkan kemampuan digital di sepanjang serat kain. Melalui pendekatan tersebut, sebuah lengan pakaian dapat berfungsi sebagai layar sentuh tanpa kehilangan karakter dasar sebagai bahan pakaian.
Melalui perangkat penelitian tersebut, komponen tampilan diintegrasikan langsung pada kain bagian lengan. Permukaan tekstil interaktif ini dapat memperlihatkan konten visual bergerak sekaligus mendeteksi tekanan jari pengguna. Sistem interaktif tersebut membuka kemungkinan interaksi manusia dengan pakaian elektronik. Dalam banyak perangkat wearable yang telah dikenal, pengguna masih mengandalkan perangkat seperti smartwatch. Melalui inovasi NUS, permukaan kain berpeluang berfungsi sebagai media komunikasi digital yang tidak selalu membutuhkan layar konvensional.
Inovasi Digital Pixel Fibre Mengubah Tekstil Menjadi Antarmuka Interaktif
Rahasia utama dari teknologi layar sentuh berbasis tekstil terletak pada penggunaan serat piksel digital. Komponen tekstil pintar ini menggabungkan fungsi tampilan dan sensor sentuh. Dalam proses fabrikasi, peneliti menggunakan teknik interkoneksi elektronik dengan posisi terkontrol. Teknik tersebut memanfaatkan laser untuk membuka titik sambungan. Setelah itu, solder cair diarahkan menuju titik tertentu agar komponen elektronik dapat tersambung secara tepat. Berkat teknik fabrikasi tersebut, ribuan komponen dapat diintegrasikan ke serat.
Berdasarkan hasil penelitian NUS, tim berhasil mengintegrasikan lebih dari 5.000 chip menggunakan jumlah hubungan listrik yang melampaui 20.000. Susunan perangkat elektronik tersebut kemudian diintegrasikan memakai proses pembentukan serat dengan panas. Hasilnya, peneliti menghasilkan serat sepanjang 10 meter yang memiliki ketebalan sekitar satu milimeter. Struktur menyerupai benang tersebut memungkinkan integrasi dengan bahan tekstil. Dibandingkan komponen tampilan tradisional, pendekatan ini memanfaatkan struktur serat sebagai pembawa elektronik.
Sensor Sentuh Terintegrasi Membuat Kain Mampu Merespons Jari
Tidak hanya berfungsi sebagai sumber tampilan, serat elektronik NUS memiliki lapisan pendeteksi sentuhan. Lapisan sensor ditempatkan di bawah susunan LED. Apabila permukaan interaktif mendapat tekanan, jalur listrik tertentu akan terhubung. Respons elektronik tersebut kemudian digunakan untuk menentukan lokasi sentuhan. Ketika lokasi interaksi terdeteksi, perangkat memberikan respons visual. Rancangan interaktif tersebut mengubah permukaan tekstil menjadi area kontrol.
Keunggulan penting lainnya adalah pengenalan interaksi multi-sentuh. Setiap bagian serat yang digunakan memiliki saluran kontrol tersendiri. Berkat arsitektur yang digunakan, gangguan pada sebuah serat tidak langsung menghentikan serat lainnya. Pendekatan arsitektur tersebut relevan bagi perangkat yang sering bergerak. Ketika dikenakan sehari-hari, bahan pakaian mengalami berbagai gerakan. Karena karakteristik pemakaian tekstil, struktur rangkaian yang terbagi menjadi beberapa kanal dapat membantu mempertahankan fungsi sebagian tampilan.
Fitur Wearable NUS Mendukung Kalkulator dan Konektivitas Bluetooth
Melalui pakaian eksperimental tersebut, peneliti menempatkan 54 benang elektronik pada area lengan baju. Tiap jalur tampilan memuat 96 LED. Konfigurasi elektronik ini menciptakan panel tekstil dengan jumlah piksel 96 x 54. Ukuran permukaan interaktif mencapai 168 x 105 milimeter. Meskipun resolusinya masih rendah dibandingkan smartphone, prototipe dapat menampilkan informasi visual. Permukaan kain elektronik dapat memperbarui gambar sebanyak 30 kali setiap detik dengan kedalaman warna 8-bit.
Kemampuan prototipe tidak berhenti pada penampilan gambar. Tim NUS berhasil mendemonstrasikan program perhitungan sederhana, galeri foto, serta penayangan konten bergerak. Pada pemutaran gambar bergerak tanpa suara, sistem mendukung penayangan 30 fps. Apabila pemutaran disertai suara, perangkat menggunakan tingkat pembaruan 25 fps. Selain itu, perangkat dapat menunjukkan arah magnetik, respons terhadap instruksi verbal, dan komunikasi nirkabel untuk menerima gambar. Fitur tersebut memperlihatkan arah perkembangan wearable yang lebih interaktif.
Pengujian Ketahanan Membuktikan Potensi Tekstil Elektronik untuk Pakaian
Salah satu tantangan terbesar pakaian elektronik adalah mempertahankan fungsi ketika bahan dicuci. Tidak seperti smartphone maupun tablet, pakaian harus mampu menghadapi proses pencucian. Untuk menguji ketahanannya, tim NUS menjalankan pengujian pencucian mesin selama 50 putaran menggunakan bahan pembersih pakaian umum. Sesudah proses pencucian tersebut, fungsi tampilan serta sensitivitas sentuhan tetap mendekati kondisi awal. Temuan tersebut menunjukkan potensi penggunaan pada pakaian nyata.
Tidak hanya diuji menggunakan mesin cuci, material mengalami evaluasi kelenturan berulang. Pada eksperimen mekanis, prototipe mengalami 1.000 siklus tekukan dengan radius sekitar lima milimeter. Pada akhir percobaan, fungsi tampilan tetap hampir tidak berubah. Tidak hanya dari sisi daya tahan, karakteristik breathability atau sirkulasi udara berada pada tingkat yang dapat dibandingkan dengan tekstil konvensional. Meskipun demikian, uji laboratorium belum membuktikan daya tahan selama bertahun-tahun.
Inovasi Tekstil Elektronik Menghadirkan Peluang Baru Pakaian Pintar
Keberhasilan peneliti NUS mengembangkan kain layar sentuh membuka peluang baru dalam pengembangan perangkat elektronik fleksibel. Dengan memanfaatkan serat elektronik multifungsi, permukaan tekstil berpotensi menjadi antarmuka komputasi. Kemampuan bertahan setelah 50 siklus pencucian serta stabilitas setelah seribu kali tekukan memberikan fondasi pengembangan produk wearable. Untuk penelitian selanjutnya, tim NUS ingin memperluas kemampuan visual pada kain serta mengembangkan pemantauan kondisi tubuh berbasis kecerdasan buatan. Namun, teknologi tersebut masih berada pada tahap penelitian. Dari sudut pandang Anda, apakah teknologi wearable berbasis serat elektronik akan membuka peluang baru dalam dunia kesehatan dan komunikasi pada perkembangan teknologi berikutnya?








